Skip to main content

SEMALAM BERSAMA BAPAK - SEBUAH AWAL


Pendahuluan






Tepat jam 3 dini hari tadi malam, saya terbangun dari mimpi. Saya bertemu almarhum Bapak, yang menjemput saya di depan gerbang kayu yang tinggi, rumah milik seseorang yang mirip rumah kami dulu. 

Di mimpi itu diceritakan, saya baru berkunjung ke rumah teman yang mengadakan acara. Saya berjalan ditemani teman saya, si pemilik rumah. Dari kejauhan, saya lihat Bapak tampak khawatir karena saya belum pulang-pulang. Wajahnya putih bersih dan badannya sehat berisi. 

Ia saat itu baru keluar menutup pintu mobil, dan sedang bercakap-cakap dengan penjaga gerbang, mungkin menanyakan saya. Dari jarak 5 meter, saya merasa heran, itu kenapa sedan Mercy-nya tidak ada kap atas dan pinggiran kaca atasnya retak-retak? Seperti kayak habis disobek atapnya, jadi seperti mobil cabriolet. 

Saya mendekat, sambil ia juga berjalan menuju ke pintu sopir. Karena kasihan dan takut ia kelelahan, saya minta untuk menggantikannya. Akhirnya kami berdua menyusuri jalan raya, yang tampak seperti jalan raya Cipanas ketika saya kecil dulu. Anehnya, mobilnya tiba-tiba berubah menjadi mobil salah satu kenalan saya. Dan ceritanya Bapak pinjam mobilnya untuk mengantar saya pulang. 

Tiba-tiba, di depan ada orang menyebrang mirip Pak Ogah yang minta uang cepean. Saya buka jendela, dan memberinya tiga buah logam 500an yang sayangnya jatuh ke jalan. Tidak ada percakapan apapun dengan Bapak, kecuali saya meminta ijin padanya untuk berhenti di pinggir, di dekat tukang buah. Entah apa maksudnya. Tapi setelah itu saya terbangun. 

Saya masih tercenung sekitar sepuluh menit. Sambil mengingat-ingat mimpi barusan. Oh my God, apa artinya ya? Saya telusuri scene by scene. Apa ya maksudnya mobil Bapak pecah kacanya? Kok wajahnya kelihatan cemas? Kenapa kok saya naik mobil sama Bapak? Kok ngga ada suami dan anak-anak? 

Terus terang, saya takut. Pikiran saya kemana-mana. Jangan-jangan, Bapak mau ajak saya pergi. Jangan-jangan, Bapak muncul karena saya masih bolong-bolong shalatnya. Jangan-jangan...

Dalam hati saya langsung berdoa, ya Allah, Dissi belum siap...jangan meninggal dulu ya Allah...jangan diambil dulu...

Gimana anak-anak...gimana urusan rumah...gimana kerjaan-kerjaan saya...

Saya pandangi anak-anak satu-persatu. Antara harus siap dan pasrah. Ya mau gimana lagi, kalau memang sudah waktunya. Bisik saya sendiri dalam hati. 

Kembali saya pandangi anak-anak. Ya Allah, saya belum meninggalkan contoh apa-apa...saya masih suka cuek, masih suka marah...

Saya belum meninggalkan bekal pendidikan apa-apa. Bagaimana mereka nanti bertahan? Pikiran itu kemudian langsung saya ralat sendiri.

Udah, ada Allah. Serahin takdirnya ke Dia. Jangan meragukan Allah, gitu ah. Lagian masih ada Bapaknya. 

Pikiran saya kembali berputar ke masa-masa bersama mereka. Ah, kalau memang sudah tiba waktunya, semuanya sudah terlambat. Saya peluk si bungsu dari belakang. Kalau lah sebentar lagi, saya ingin menikmatinya sekarang.   

Teringat saat-saat memeluk anak-anak satu persatu, menciumi mereka. Atau bertiga saling berebutan, mendorong, menindih, bahkan memanjat tubuh saya, karena  berebut minta dipeluk paling banyak. Sedangkan si sulung pura-pura asyik sendiri, malu minta pelukan. 

Tapi kebahagiaan itu digantikan dengan adegan-adegan saya yang juga rajin memarahi mereka...

Ya Rabb...kalau saya pergi, satu-satunya ingatan mereka pasti, Bubu galak. Huhuhu... 

Lalu batin saya yang lain berbisik. Berperang dengan pikiran saya. 

Ah ini cuma mimpi....
Biasa itu, bawaannya jin yang mengganggu, bukan 'pertanda' dari Yang Maha Kuasa. Besok ngga usah diceritain biar ngga terjadi beneran. 

Lalu saya kembali sibuk menganalisa. Sampai lupa meludah ke kiri tiga kali, anjuran Nabi jika bermimpi buruk, sambil membaca taawudz. 

Kayaknya besok harus sedekah, nih, biar dipanjangin umurnya. Eh tapi, sedekah kok pamrih? Oh iya, silaturahim. Eh, alhamdulillah tadi pagi sudah, moga-moga jadi memperpanjang. 

Saya udah berpikir kemana-mana lagi (emang ribet banget ya, saya??) 

Nanti suami inget ngga ya updatin status bikin pengumuman. Oh iya, gimana utang-utang kerjaan yang belum, ya? 

Aduuh...10 menit yang singkat tapi penuh pikiran yang ngga-ngga. 

Lalu akhirnya saya ambil kesimpulan. Dah bangun, shalat Isha dulu, terus tahajjud. Mungkin memang disuruh bangun biat shalat. Dikasih mimpi yang 'mencekam' supaya takut terus berdoa. Karena yang udah-udah, saya tanpa rasa bersalah, kembali tidur lagi, meski terbangun jam segitu. 

Sepanjang ambil wudhu lalu shalat, tidak berhenti otak berhenti mengingat-ingat. Padahal mencoba khusyuk, belok lagi pikirannya. Saya urut lagi kejadiannya. 

Duh, bisa ya, mikirin mimpi aja kok ngga kelar-kelar? Drama banget ya si Dissi? 

Lalu saya coba menganalisa, kenapa bukan Bapak yang bawa mobilnya, ya? Kenapa kok saya, yang malah membawa Bapak pergi? Artinya, selama Bapak duduk disitu, kemana pun mobil itu saya bawa, ya dia ikut. Apa ya artinya?

Lalu saya coba menghubung-hubungkan ke kaca mobil yang 'tersobek' atasnya. Meskipun itu mobil Mercy yang mewah, tetap aja ngga enak dilihat. Lalu tiba-tiba berubah jadi mobil pinjaman, lagi.

Rangkaian itu akhirnya membuat saya mengambil kesimpulan, saya belum sempurna membawa diri sebagai anak Bapak. Saya mendoakannya kalau ingat saja. Bahkan saya sering melewatkan shalat dengan sengaja :( 

Saya seperti tidak peduli dengan hukuman akibat meninggalkan shalat, padahal tahu kalau itu kewajiban pokok. Amalan yang pertama kali dihisab. Bahkan tahu tentang hadits bahwa akan ada ular besar membelit orang-orang yang malas shalat di alam kubur nanti. Ya Allah...

Saya jadi memikirkan Bapak. Jadi ingat lagi tentang hadits Nabi, bahwa jika kita mati, tidak ada yang dibawa kecuali ilmu yang bermanfaat dan amalan anak-anak yang sholeh, yang terus mengalir hingga hari akhir.

Ah, apakah itu? Karena amal sholeh saya yang ngga sungguh-sungguh, yang menyebabkan mobil Mercy Bapak kurang sempurna? Apa karena saya masih kurang berbuat baik dan berbagi, ya?

Saya lalu shalat taubat, atas dosa-dosa yang masih disitu-situ aja. Ngga naik-naik kelas. 

Tapi saya masih bersyukur, setidaknya mobil yang dinaikin Bapak, mobil bagus. Mobil Mercy yang tiba-tiba berubah jadi mobil pinjaman, entah merk apa, meski bukan Mercy, juga bagus. Malah lebih baik, karena atapnya tertutup.

Ah, iya. Andai waktu saya cuma sebentar, kenapa ngga dihabiskan buat berbagi? Dengan begitu, saya masih punya kesempatan untuk menyalurkan amalan baik ke Bapak. Karena kalau terlanjur pulang ikut Bapak, siapa yang bisa nolong Bapak? 

Dan saya? Gimana dengan saya, kalau begitu? 

Apakah anak-anak akan ingat mendoakan saya nantinya? Dan apakah masih ingat dengan saya ketika dewasa nanti? Bagaimana jika yang mereka ingat "si Bubu yang galak", sesuai memori masa kecilnya yang buruk? 

Atau jangan-jangan, bukan mobil yang saya dapatkan seperti halnya Bapak, melainkan hukuman di alam barzakh? Ya Rabb...ngga sanggup saya memikirkannya. 

Pikiran-pikiran itu kemudian tiba pada satu kesimpulan, saya harus cepat-cepat menyelesaikan buku yang sudah ketemu ruhnya ini. Karena tidak ada alasan untuk menunda-nundanya lagi. 

Kecuali saya pengin menyesal, ilmu yang dianugerahkan ini tidak berarti apa-apa ketika saya mati. Di dunia tidak bermanfaat, di alam barzakh pun tidak. Naudzubillahi min dzalik. 

Padahal ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh, adalah pintu masuk bertambahnya timbangan amalan di atas timbangan dosa. 

Saya sadar, kalau saya panjang umur, usia saya sudah masuk lampu kuning kedap-kedip. Sudah tidak boleh berleha-leha lagi. Harus banyak-banyak bermanfaat, banyak-banyak membagikan ilmu. Harapannya, tabungan akhirat saya ada lumayan banyak. Ngga tau-tau boncos. Apalagi saya sadar diri, ibadah saya parah :( 

Jadi, demikian lah. Tulisan pertama untuk calon buku ini akhirnya jadi juga. Mungkin mimpi semalam itu, teguran halus Allah untuk saya mulai. Stop beralasan ini-itu. Stop berdalih ini-itu. 

Sigh. 

Ternyata mimpi bersama Bapak tadi malam, lebih spesial. Karena efeknya luar biasa, mengingatkan saya akan jatah hidup yang pendek. Dulu sekali saya pernah memimpikan Bapak, tidak lama setelah meninggal. Kira-kira sepuluh tahun yang lalu. 

Bapak sedang naik tangga di sebuah istana berwarna putih yang luas. Pilarnya tinggi dan lebar. Saya ada di bawahnya, mengikuti langkahnya. Ia menengok ke saya sambil tersenyum. Wajahnya segar. Tapi ia tidak berkata apa-apa sambil terus berjalan ke lantai atas. 

Tapi ketika saya mengikutinya ke lantai dua, saya melihat atap-atap istana itu bocor dimana-mana. Airnya mengalir ke bawah seperti talang-talang air, membasahi lantai yang banjirnya semata kaki. 

Saat itu saya juga sama gelisahnya seperti sekarang. Cuma waktu itu saya belum memiliki apa-apa yang bisa dipakai untuk menolong Bapak. Entah itu ilmu atau uang untuk disedekahkan. Karena saat itu benar-benar lagi jatuh-jatuhnya. Jadi saya memilih berdoa, yang pada pelaksanaannya, saya lalai lagi, lalai lagi. 

Dan sekarang, lagi-lagi, saya bermimpi yang hampir sama. Entah apa artinya. Hanya suami saya menyarankan, saya harus banyak-banyak berdoa dan bersedekah atas nama beliau. Siapa tahu, bisa menambal kebocoran-kebocorannya. Ibaratnya, Bapak sudah punya tempat tinggal dan kendaraan yang bagus, tapi ngga nyaman ditinggali. 

Duh, Bapak...sedih banget saya belum bisa membalas budi baik almarhum... :'( 

So here it is. Ini azzam saya, tekad saya. Selagi nafas masih berhembus. Dan selagi anak-anak masih bisa didoakan. Semoga sepanjang hidupnya kelak, mereka menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Sehingga doanya, amalannya, juga ilmunya, juga sampai ke orangtuanya. 

Just a simple wish. Dan semoga hanya takdir-takdir baik yang menghampiri mereka.

Karena apalah arti diri kita tanpa doa mereka. Rekening bank, aset, perusahaan, sahabat, semuanya lenyap, tidak kita bawa saat meninggal. 

Dan tanpa ilmu yang bermanfaat, amal sholeh dan sedekah, juga anak-anak yang mendoakan, kita totally fakir miskin! Dikejar-kejar pula oleh siksa kubur. Naudzubillahi min dzalik. 

Semoga titipan ini, menjadi inspirasi dan ilmu yang bermanfaat untuk teman-teman yang membacanya. Bisa menjadi pemberat amalan almarhum Bapak yang tidak putus-putus, tabungan bagi guru-guru saya yang mengajarkannya, juga tabungan saya kelak sampai hari pembalasan tiba. Aamiin. 





Comments

Popular posts from this blog

ONE STEP AT A TIME

Memaksa diri buat nge-blog lagi, satu-satunya cara biar semangat, ya ngajak temen-temen Khadija Initiative. Biar ilmu yang ngendap ngga jadi bulukan dibiarin lama-lama. Jadi tadi sharing tipis-tipis di Telegram, grup khusus teman-teman single mom yang mau belajar storytelling. Jadi bisa langsung praktek di blog, kalau masih belum PD publish di fb. Bikinnya cukup di blogger.com aja yang user-friendly, 5 menit jadi. Di hp pun bisa, sambil tidur-tiduran. Jadi ga ada kata "ngga bisa", "ngga sempet", "hp jadul"... karena... "apa sih yang ngga bisa dipelajari kalo emang niat?"...iya kan? Apalagi, menulis itu obat mujarab buat jiwa kita. Terapi yang sangat murah buat melepaskan emosi yang menumpuk. Atau menumpahkan ide-ide gila yang ngga semua orang harus tau. Apalagi bagi teman-teman yang ditakdirkan mengalami jalan berliku, terjal, nikung, dan nyungsep, di kehidupannya. Menulis adalah salah satu cara untuk merangkak naik. Ibarat lagi te...

KENALI DIRIMU, MAKA KAU AKAN MENGENAL TUHANMU

Karena sedang menggarap beberapa artikel kesehatan, akhirnya saya jadi mempelajari hal-hal baru, yang sebenarnya ngga asing, demi menghasilkan tulisan yang bertanggungjawab. Jangan sampai sekedar jadi, tapi " Jaka Sembung bawa golok ". Baca dan riset, apa itu penyebab autoimun , gimana cara kerja sel darah putih atau disebut leukosit , apa itu Interleukin 6, bagian sel darah putih yang jadi pemicu rematik, dll. Dan barusan ketemu kata baru " apoptosis sel ". Wuh...mantan anak sosial belajar ilmu biologi basic itu...sesuatu. Alias keriting, mesti diurut dulu kabelnya biar konek. Dan baca tentang bagian-bagian tubuh manusia yang terkecil ini, malah bikin semakin amazed aja. Kalau dulu sekedar tahu bahwa "tubuh manusia terdiri dari sel" atau "bagian terkecil manusia adalah inti sel (atom)"...sekarang jadi tahu ternyata masing-masing sel punya perannya sendiri. Ada yang tugasnya mengantar (nutrisi), kasih sinyal, menerima, mengelola, dan ...